Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada pilihan. Ada yang mudah dipilih, ada yang membuat kita bimbang hingga tidak bisa tidur semalaman. Tapi ada juga kondisi ketika kita tidak bisa memilih. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena apa pun pilihan yang kita ambil akan menyakiti satu pihak dan mungkin juga diri sendiri.
Aku pernah berada di posisi seperti itu. Dulu, saat memasuki dunia kuliah, aku dihadapkan dengan dua pilihan: membantu keluargaku di rumah atau fokus mengejar impian yang sudah lama ingin kugapai. Kedua-duanya penting. Yang satu adalah tanggung jawab, yang satu lagi adalah masa depan.
Di rumah, ibuku mulai kewalahan mengurus adikku yang masih kecil. Ayahku bekerja jauh, dan aku adalah anak pertama yang diharapkan bisa menjadi penopang keluarga. Tapi di sisi lain, aku mendapatkan kesempatan langka—diterima di kampus impian yang hanya bisa kucapai dengan kerja keras bertahun-tahun. Aku merasa hancur karena tidak bisa membelah diriku untuk memenuhi keduanya sekaligus.
Setiap malam aku termenung di sudut kamar, menatap langit-langit sambil memikirkan apa yang harus kupilih. Aku menangis dalam diam, bukan karena lemah, tapi karena terlalu banyak menahan beban yang tak bisa kubagi pada siapa pun. Orang-orang bilang aku harus memilih yang terbaik untuk masa depanku. Tapi bagaimana bisa aku memilih jika satu-satunya orang yang selalu mendukungku justru akan terbebani oleh pilihanku?
Pagi itu, aku duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat. Ibuku datang dan duduk di sebelahku.
“Kamu kelihatan murung belakangan ini, kenapa?”
Aku diam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi air mataku tiba-tiba menetes begitu saja.
“Aku nggak tahu harus gimana, Bu,” kataku lirih.
Ibuku tersenyum tipis sambil menepuk bahuku.
“Kamu nggak harus memilih, Nak. Kamu hanya perlu menjalaninya satu per satu. Hidup nggak akan selalu memberi kita jalan yang jelas, tapi yakinlah, Tuhan akan memudahkan jika niat kita tulus.”
Sejak hari itu, aku memutuskan untuk menjalani semuanya sebaik mungkin. Kuliahku mungkin tidak seideal orang lain, karena aku harus bolak-balik antara kampus dan rumah, belajar sambil menjaga adik, kadang harus absen demi membantu ibu. Tapi aku bahagia. Bahagia karena aku tahu, aku tidak harus selalu memilih jika aku bisa tetap berusaha menjalani keduanya dengan seimbang.
Kadang hidup memang membuat kita berada di tengah dua hal yang sama penting. Dan saat kita tidak bisa memilih, mungkin itu tanda bahwa kita harus belajar menjalani, bukan lari dari pilihan. – Rezqi Abdina

0 comments:
Posting Komentar