Melindungi seseorang bukan hanya soal berdiri di hadapannya saat bahaya datang. Melindungi bisa berarti diam-diam mendoakannya saat ia tak tahu, menyembunyikan rasa sakit sendiri agar ia tak khawatir, atau menjauh perlahan karena tahu kehadiran kita bisa menyakiti perasaannya. Tak semua perlindungan harus terlihat, dan tak semua perlindungan harus diketahui oleh orang yang kita lindungi.
Aku pernah menyukai seseorang. Tapi rasa itu bukan seperti cinta biasa, melainkan sesuatu yang membuatku ingin melihatnya bahagia, bahkan jika kebahagiaannya bukan bersamaku. Aku hanya ingin dia baik-baik saja, tidak lebih.
Aku ingat, saat itu kami berada di satu lingkungan yang sama, belajar bersama, bercanda bersama, dan saling membantu dalam banyak hal. Dia tidak pernah tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak pernah menyatakannya, bukan karena takut ditolak, tetapi karena aku merasa belum pantas. Dia pantas mendapatkan yang terbaik, dan aku tahu, aku masih jauh dari kata "terbaik."
Ada suatu masa ketika dia bercerita kepadaku tentang seseorang yang ia sukai. Ia menceritakannya dengan semangat, dengan mata yang bersinar. Aku hanya tersenyum dan mendengarkan, meskipun dalam hati seperti ada yang runtuh. Namun aku tidak bisa marah, karena aku memang tidak berhak.
Dari hari ke hari, aku terus menjaga jarak. Aku tidak ingin rasa ini membuatku berubah menjadi orang yang egois. Aku tetap ada saat dia butuh, tapi aku mulai mengurangi hadirku saat dia sedang bahagia. Aku tidak ingin menjadi bayangan yang terus-menerus ada saat ia mencoba mengejar cahayanya sendiri.
Suatu ketika, dia mengalami masalah besar dalam keluarganya. Ia menangis di pojok taman sekolah, sendirian. Aku menghampirinya, memberikan jaketku, dan duduk di sampingnya. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain menemaninya. Kadang, kehadiran tanpa banyak bicara jauh lebih berarti dari sekadar nasihat yang tak diminta.
“Terima kasih udah selalu ada, Qi,” katanya.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu berkata dalam hati, "Aku akan selalu ada, walaupun kamu tidak tahu bahwa aku ada untuk melindungimu."
Hari-hari berlalu, dan kami perlahan menjauh. Bukan karena ada konflik, tapi karena jalan hidup kami berbeda. Kini, aku hanya bisa melihatnya dari jauh, melalui media sosial, kadang tersenyum saat melihatnya tertawa, kadang mendoakannya diam-diam di malam hari.
Melindungi seseorang bukan berarti harus selalu berada di sampingnya. Kadang, perlindungan yang paling tulus adalah yang tidak terlihat oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan. – Rezqi Abdina

0 comments:
Posting Komentar