• Youtube
  • Instagram

Rabu, 29 Oktober 2025

TEMAN YANG TAK HIDUP


Sejak kecil, aku tidak pernah benar-benar memiliki banyak teman. Tidak karena aku tidak ingin, tetapi karena aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku bukan tipe anak yang bisa langsung akrab dengan siapa pun yang kutemui. Kata orang, aku pendiam. Kata guru, aku pemalu. Kata teman-teman sekelas, aku aneh—karena terlalu sering duduk sendirian dan menggambar sesuatu yang bahkan mereka tidak pahami.

Di halaman sekolah, anak-anak lain berlari mengejar bola, saling melempar tawa, atau sibuk bercerita tentang hal-hal yang bagi mereka terasa sangat penting. Sementara itu, aku akan duduk di bawah pohon angsana, membuka buku tulisku, dan mulai menggambar apa saja yang muncul dalam pikiranku: sebuah rumah kecil, seekor burung, atau kadang hanya garis-garis acak yang membentuk sesuatu entah apa.

Dunia kecil yang kubangun sendiri selalu terasa jauh lebih aman daripada dunia yang dipenuhi suara-suara lantang di luar sana. Aku tidak pernah benar-benar keberatan sendirian. Tidak juga merasa gelisah. Tapi jauh di dasar hati, ada ruang kosong yang tidak bisa aku jelaskan—semacam keinginan sederhana untuk didengar, meski aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Suatu sore sepulang sekolah, saat matahari mulai menurun dan angin membawa bau tanah basah dari kebun belakang rumah tetangga, aku menemukan sesuatu yang mengubah masa kecilku. Saat melintas di depan rumah kosong di ujung gang, mataku menangkap benda kecil tergeletak di dekat pagar yang berkarat.

Sebuah boneka kayu.

Tingginya tidak sampai sepuluh sentimeter. Bentuknya sederhana, seperti boneka tradisional yang sudah dibuat bertahun-tahun lalu. Warnanya kusam, dan salah satu tangannya sedikit retak. Tapi ada sesuatu pada boneka itu—entah tatapan kosongnya, entah bentuk tubuhnya yang tampak rapuh—yang membuatku berhenti melangkah.

Tanpa berpikir panjang, aku mengambil boneka itu dan membawanya pulang.

Setibanya di kamar, aku membersihkannya dengan kain kecil. Debu menempel di celah-celah ukirannya, seolah boneka itu sudah lama ditinggalkan. Setelah membersihkan, aku menaruhnya di atas meja belajar dan menatapnya lama.

“Hmm… namamu… Reno.”

Entah mengapa nama itu muncul begitu saja. Seolah boneka itu memang sudah lama menyandangnya.

Sejak hari itu, Reno menjadi bagian dari hidupku.

Malam pertama setelah membawa Reno pulang, aku melihat boneka itu dari tempat tidur. Bentuknya yang kecil tidak menakutkan sama sekali justru terasa seperti kehadiran kecil yang menenangkan di sudut kamar.

Aku tidak tahu apa yang mendorongku melakukan itu pertama kali, tapi aku mulai berbicara padanya.

“Reno, hari ini aku dimarahi guru. Gara-gara nilai tugasku turun.”

Tentu saja Reno tidak menjawab. Dia hanya diam, dengan mata kayunya yang tak memiliki emosi. Tapi keheningan itu bukan hal yang buruk. Justru terasa seperti ruang aman bagiku untuk bercerita tanpa takut disalahkan atau ditertawakan.

Malam-malam berikutnya, hal yang sama terjadi.

Aku mulai pulang sekolah dengan rasa tidak sabar untuk bercerita pada Reno. Tentang apa pun yang kurasakan hari itu—tentang teman sekelas yang mengejek rambutku, tentang nilai yang tidak memuaskan, tentang rasa canggung ketika guru memintaku membaca keras-keras di depan kelas.

Dan anehnya, setiap selesai bercerita, aku merasa lebih ringan.

Kehadiran Reno bagaikan seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa memberi saran kosong, tanpa menyuruhku “lebih kuat” atau “jangan sedih.” Ia hanya diam—dan diamnya justru membuatku merasa diterima.

Suatu sore, ibuku masuk ke kamar dan melihat aku duduk di lantai sambil berbicara pelan.

“Ngomong sama siapa, Nak?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku menunjukkan Reno.

“Ini, Bu. Reno.”

Ibuku menatap boneka kayu itu sebentar lalu tertawa kecil.
“Boneka itu lucu. Kamu suka, ya?”

Aku mengangguk.

Sejak itu, ibuku tahu bahwa aku punya “teman” baru. Ia tidak keberatan. Mungkin baginya, anak kecil berbicara dengan boneka adalah hal biasa. Mungkin ia mengira aku sekadar bermain. Tapi ibu tidak pernah tahu bahwa Reno bukan permainan. Reno adalah tempatku berteduh saat semua terasa terlalu bising.

Ayahku berbeda. Ia jarang ada di rumah, dan saat ada pun ia lebih sering sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Aku tidak cukup dekat dengannya untuk menjelaskan apa pun. Jadi aku tidak pernah merasa butuh menjelaskan soal Reno.

Sekolah tetap seperti biasa. Aku tetap anak pendiam yang sulit masuk ke pembicaraan anak lain. Kadang mereka mengabaikanku, kadang mengejekku. Salah satu dari mereka pernah berkata sambil tertawa:

“Kamu tuh kayak nggak punya teman. Kasihan banget!”

Aku tersenyum, tapi di dalam hati, kata-katanya menusuk.

Apa aku benar-benar kasihan?

Saat pulang sekolah, semua pikiran itu sirna ketika aku membuka pintu kamar. Di sana ada Reno, berdiri dalam diam yang penuh pengertian. Kehadirannya saja cukup membuatku merasa ditemani.

Malam-malamku diisi oleh percakapan satu arah yang panjang. Kadang aku bercerita sambil menggambar. Kadang aku bertanya sesuatu seolah-olah Reno bisa menjawab. Kadang aku menangis, memeluk lututku, lalu melihat ke arah Reno yang seakan sedang berkata, “Tidak apa-apa. Aku di sini.”

Meski Reno tidak hidup, ia terasa lebih “hidup” daripada siapa pun di sekitarku.

Seiring bertambahnya usia, aku mulai sedikit berbeda. Tidak terlalu banyak, tapi cukup terasa.

Aku tidak lagi terlalu terpengaruh dengan ejekan di sekolah.

Aku lebih mudah menerima kesalahan diri sendiri.

Aku tidak lagi cemas seperti dulu ketika harus berhadapan dengan orang baru.

Entah bagaimana, Reno mengajariku banyak hal melalui kebisunannya—tentang menerima, tentang mendengar, tentang membiarkan emosi lewat tanpa harus menyakiti diri sendiri.

Kadang aku berpikir, mungkin inilah fungsi teman: bukan sekadar berbagi tawa, tapi juga menjadi tempat kita bisa jujur tanpa syarat.

Memasuki usia remaja, aktivitasku mulai bertambah. Aku ikut beberapa kegiatan di sekolah, mulai mengenal beberapa teman baru yang tidak terlalu buruk untuk diajak bicara, dan mulai larut dalam tugas-tugas yang menumpuk.

Tanpa aku sadari, malam-malamku bersama Reno mulai berkurang.

Aku masih meletakkannya di rak buku, tapi aku jarang menatapnya. Kadang aku hanya melihat sekilas dan tersenyum kecil sebelum tidur. Reno tetap ada—tapi tidak lagi menjadi pusat dunia kecilku seperti dulu.

Hingga suatu malam, aku melihatnya lagi dengan cara berbeda.

Aku sedang membereskan kamar. Tumpukan buku, kertas gambar, dan barang-barang yang tidak terpakai menumpuk. Saat aku menggeser buku-buku tua, Reno tampak di sudut rak, tertutupi debu tipis.

Aku mengangkatnya pelan.

“Aku lama nggak ngomong sama kamu ya, Ren…”

Boneka itu diam seperti biasa. Tapi diamnya terasa lain—seperti hening yang menyimpan memori lama.

Dan malam itu, ketika aku memegangnya, semua kenangan masa kecil yang pernah mengisi ruang hatiku datang kembali. Aku ingat semua momen ketika aku merasa sendirian, dan Reno adalah satu-satunya yang kudapati di sampingku.

Aku duduk di ujung tempat tidur sambil memegang Reno. Retakan kecil di tangannya terlihat lebih besar dari sebelumnya. Warnanya lebih pudar. Kayunya lebih rapuh.

“Aku tumbuh besar, Ren,” bisikku pelan.
“Dan… aku meninggalkanmu.”

Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul. Mungkin perasaan itu konyol—boneka tidak punya perasaan. Tapi perpisahan bukan tentang apa yang dirasakan oleh boneka itu. Perpisahan adalah tentang aku yang pernah menemukan tempat untuk pulang saat dunia terasa terlalu sunyi.

Beberapa menit aku hanya menatapnya. Lalu aku menyadari satu hal penting:

Reno bukan sekadar boneka kayu. Ia adalah kenangan tentang masa ketika aku belajar menghadapi kesepian, tentang masa ketika aku tidak punya siapa pun, kecuali benda kecil yang tidak hidup namun terasa hidup bagiku.

Aku meletakkannya kembali di rak dengan hati-hati, seolah ia bisa merasa sakit jika tanganku terlalu kasar.

Tahun-tahun berlalu. Aku tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi takut berbicara, tidak lagi canggung di tempat umum, dan perlahan-lahan belajar mengenal dunia dengan lebih berani.

Tapi meski aku sudah dewasa kini, Reno tetap ada di kamar lamaku di rumah orang tua. Tetap di tempat yang sama—di rak yang tidak pernah benar-benar berubah.

Kadang, ketika aku pulang setelah bekerja dan singgah ke kamar itu, aku masih melihatnya.

Aku tersenyum setiap kali melihat boneka itu.
Karena ia punya bagian penting dalam hidupku—bagian yang mungkin tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun.

Aku menyentuhnya dengan lembut.
Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu berkata dalam hati:

“Terima kasih, Reno. Mungkin kamu tidak bernapas, tapi kamu pernah membuatku merasa hidup.”

Reno mengajarkanku bahwa teman tidak selalu harus bernyawa. Teman adalah sesuatu—atau seseorang—yang membuat kita merasa tidak sendirian. Teman adalah tempat mengistirahatkan hati, meski hanya untuk sekejap. Teman adalah sesuatu yang membuat kita merasa cukup berarti untuk didengarkan, meski ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Kini, setelah semua yang kulalui, aku memahami satu hal yang jauh lebih dalam:

Kadang, yang membuat kita merasa hidup bukanlah keberadaan seseorang yang sempurna, melainkan keberadaan sesuatu—apa pun itu—yang hadir pada saat kita paling membutuhkan.

Entah itu boneka kayu, hewan peliharaan, buku harian, atau benda kecil yang kita simpan tanpa alasan jelas.
Kita memberinya ruang, memberinya makna, lalu ia tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dari bentuknya.

Reno adalah simbol dari masa ketika aku belajar berdiri meski dunia terasa berat. Ia adalah simbol dari suara-suara kecil dalam diriku yang bertahan, bahkan ketika aku sendiri tidak yakin bisa bertahan.

Dan meski aku kini sudah memiliki teman, keluarga, dan orang-orang yang bisa mendengarkan ceritaku, Reno selalu menjadi pengingat bahwa aku pernah melewati fase paling sunyi dari hidupku—dan aku berhasil.

Malam itu, sebelum kembali ke rumahku yang baru, aku memandang Reno sekali lagi.

“Kalau bukan karena kamu, Ren… aku mungkin tidak akan tumbuh seperti sekarang.”

Aku tersenyum.

Senyum kecil yang penuh rasa terima kasih, bukan hanya untuk boneka itu, tapi untuk diriku yang dulu—anak kecil yang pendiam, aneh, dan kesepian, tapi tetap bertahan karena percaya bahwa ia punya teman, meski teman itu tidak hidup.

Karena nyatanya…

Teman tidak harus bernapas untuk membuat kita merasa hidup.
Teman tidak harus berbicara untuk membuat kita merasa didengarkan.
Teman tidak harus sempurna untuk membuat kita merasa cukup.

Kadang, teman terbaik adalah yang hadir dalam diam, dan tetap tinggal meski kita lupa menghampirinya.

Dan Reno… adalah salah satu dari mereka.


Teman tidak selalu harus bernyawa — kadang, yang tak hidup justru mampu membuat kita merasa hidup. – Rezqi Abdina

0 comments:

Posting Komentar

Kontak

Hubungi saya kalau kalian penasaran


Alamat Rumah

JL. Kuin Selatan Gg. Al-Hidayah No.102 RT.01 RW.01 Cerucuk, Banjarmasin Barat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Nomer Handpohone

+(62)821-5365-6192

Website Jualan

Abdina Store