• Youtube
  • Instagram

Rabu, 29 Oktober 2025

CIUMAN TULUS


Ciuman bukan hanya tentang kasih atau cinta. Ia bukan sekadar sentuhan singkat antara kulit dan kulit, atau gestur kecil yang sering dianggap biasa. Ciuman, ketika diberikan dengan hati yang benar-benar tulus, adalah bahasa yang mampu berbicara jauh lebih dalam daripada kata-kata mana pun. Di dalamnya ada maaf yang tidak terucap, ada rasa syukur yang tertahan, ada cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat panjang.

Dan aku… mengenal arti ciuman yang sesungguhnya dari seorang perempuan yang selama ini diam-diam mengajarkan begitu banyak hal dalam hidupku: ibuku.


Malam itu, rumah begitu sunyi. Lampu ruang tamu menyala redup, seolah memahami keheningan yang menggantung di udara. Kipas angin tua di langit-langit berputar pelan, mengeluarkan suara berderit yang tidak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Bau sabun cucian tercium samar dari arah dapur, bercampur dengan aroma pakaian bersih yang belum dilipat.

Ibuku duduk di kursi tuanya, kursi yang sudah mulai pudar warnanya. Tangannya masih menggenggam setrika, meski matanya terlihat begitu lelah. Di meja kecil di sampingnya, ada segelas air putih yang tak tersentuh sejak sore. Rambutnya sudah sedikit berantakan, kulit wajahnya tampak kusam dan tertarik oleh penat yang berkumpul selama berhari-hari.

Aku berdiri di ambang pintu, memandanginya tanpa suara.

Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap masuk dalam dadaku. Siang tadi aku sempat berbicara kasar kepadanya—hanya karena hal kecil yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Ia hanya menegurku agar tidak meninggalkan piring kotor di kamar, tapi aku, entah karena lelah atau karena ego yang terlalu tinggi, membalas dengan nada keras yang tidak sepantasnya.

Setelah itu, aku pergi ke kamar tanpa menoleh lagi.

Dan kini, saat melihatnya tertidur sambil duduk—dengan setrika masih panas, dengan bahu yang turun naik karena lelah—aku merasa diriku menjadi sangat kecil.


Aku mendekat perlahan, seolah takut membangunkannya. Ketika aku berdiri tepat di depannya, aku memperhatikan wajah itu dengan saksama. Dulu wajahnya selalu terlihat cerah dan penuh tenaga; kini garis-garis halus sudah tampak jelas di sudut mata dan bibirnya. Garis-garis yang tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dari ribuan malam kurang tidur, dari beribu hari di mana ia lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang menusuk di dadaku.

Dulu aku sering menganggap ibuku kuat. Seolah ia tidak pernah lelah, tidak pernah sakit, tidak pernah butuh istirahat. Aku lupa bahwa ia juga manusia—seseorang yang bisa salah, bisa sedih, bisa merasa tidak dihargai.

Dan mungkin aku… terlalu sering menjadi alasan di balik semua itu.

Aku menelan ludah, menunduk sedikit, lalu duduk di lantai dekat kursinya. Aku hanya ingin berada sedikit lebih dekat.

Ibuku membetulkan posisi duduknya sambil menghela napas dalam tidur. Tangannya yang memegang setrika hampir terjatuh. Dengan refleks, aku mengambil setrika itu dan mematikannya. Tangannya lemas, jatuh ke pangkuannya.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat hatiku terasa hampir pecah.


Aku menatap wajahnya lama. Dalam diam itu, ada banyak hal yang ingin kukatakan padanya. Hal-hal yang selama ini selalu tertahan di tenggorokan.

“Maaf, Bu…” bisikku, meski aku tahu ia tidak mendengarnya.

Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal telah membentaknya. Aku ingin mengatakan bahwa aku sadar ia sudah terlalu lelah, tapi tetap berusaha melakukan semuanya agar aku nyaman. Aku ingin mengatakan bahwa aku menghargainya—jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kuberikan.

Tapi lidahku kelu. Kata-kata itu terasa terlalu berat untuk keluar.

Terkadang, meminta maaf adalah hal paling sulit bagi seseorang, terutama saat kita menyadari betapa besar orang yang kita sakiti.

Dalam hatiku, suara-suara itu berteriak, tapi bibirku tidak bergerak.

Aku ingin menyentuh tangannya, tapi aku ragu. Aku tidak terbiasa memperlihatkan kasih sayang dalam bentuk fisik. Sejak kecil aku tidak tumbuh dalam keluarga yang sering memeluk atau mencium. Kami bukan keluarga yang mudah mengekspresikan rasa sayang. Herannya, meski begitu, ibuku selalu menyampaikan kasihnya melalui tindakan-tindakan kecil yang tidak pernah terpikirkan oleh kami.

Ia menunjukkan cintanya melalui makanan yang selalu tersedia, melalui pakaian yang bersih, melalui rumah yang rapi, melalui teguran-teguran kecil yang sebenarnya tidak lain hanyalah bentuk perhatian.

Aku, sebaliknya… sering tidak menunjukkan apa-apa.

Dan malam itu, penyesalan datang seperti tamu yang tidak diundang.


Setelah beberapa saat, tanpa benar-benar memikirkannya, aku berdiri perlahan dan membungkuk mendekatinya. Dari dekat, aku bisa melihat mata ibuku bergerak sedikit di bawah kelopak yang tertutup. Mungkin ia sedang bermimpi. Atau mungkin ia hanya lelah.

Aku ragu sejenak.

Namun sesuatu di dalam diri mendorongku melakukannya.

Aku mencondongkan tubuhku, kemudian mencium keningnya perlahan. Sentuhan bibirku pada kulitnya terasa dingin, bahkan sedikit kasar. Namun justru dari getaran kecil itulah, sesuatu yang hangat menyebar di dalam dadaku.

Ibuku tidak terbangun.

Tapi aku tahu ia merasakannya.

Aku berdiri tegak kembali, menatap wajahnya yang tetap dalam tidur. Air mata tiba-tiba mengalir, meski aku berusaha menahannya. Aku cepat-cepat mengusap air itu dengan tangan gemetar, takut tetesan itu jatuh ke wajahnya dan membangunkannya.

Ciuman kecil itu… terasa seperti bahasa yang selama ini tidak pernah aku kuasai.

Bahasa kasih sayang.

Aku tidak pernah menyangka bahwa hal sesederhana itu bisa terasa begitu dalam. Sangat dalam, hingga aku hampir tidak sanggup menahan perasaan yang membuncah di dada.


Ketika aku kembali duduk, tiba-tiba kenangan masa kecil datang satu per satu:

Kenangan saat aku jatuh dari sepeda dan ibuku berlari panik menghampiri.
Kenangan saat aku sakit, dan ia begadang hampir semalam suntuk menjaga.
Kenangan saat aku meraih prestasi kecil, dan ia menepuk bahuku sambil tersenyum bangga.
Kenangan ketika ia diam-diam menabung untuk membelikan sesuatu yang aku inginkan.
Kenangan saat ia memaafkan kesalahanku berkali-kali, seolah aku selalu pantas mendapatkan kesempatan baru.

Semua itu muncul begitu jelas, seakan baru terjadi kemarin.

Aku mengangkat wajahku, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Malam yang hening itu berubah menjadi malam yang penuh makna. Aku merasa seolah Tuhan sedang menunjukkan sesuatu yang penting—sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku.

Bahwa seorang ibu mungkin tidak pernah meminta apa pun…
Tetapi bukan berarti ia tidak membutuhkan apa pun.

Ia juga butuh dimengerti.
Butuh dihargai.
Butuh disayangi.

Dan aku… terlalu jarang melakukan itu.


Besok paginya, ibuku bangun lebih pagi dari biasanya. Ia langsung ke dapur dan mulai memasak sarapan. Tapi hari itu ada yang berbeda. Ketika aku keluar kamar, ia menatapku dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

“Sudah bangun?” tanyanya singkat.

Tetap dengan suaranya yang sama, tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ia rasakan dari malam kemarin.

Aku mengangguk.
Aku ingin meminta maaf, tapi lagi-lagi aku tidak tahu bagaimana memulainya.

Namun yang terjadi berikutnya membuatku terdiam.

Ibuku tersenyum tipis, lalu berkata,

“Kamu kelihatan capek... nanti makan yang banyak, ya.”

Ia berkata dengan begitu tulus, seolah semalam aku tidak berbuat apa-apa. Seolah ia tidak pernah dihardik oleh anaknya sendiri. Seolah malam itu tidak meninggalkan jejak luka apa pun pada hatinya.

Di situ aku sadar, cinta seorang ibu memang aneh.

Ia bisa memaafkan sebelum kita sempat meminta maaf.


Hari-hari berikutnya, aku berusaha berubah sedikit demi sedikit. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi anak yang lebih baik. Anak yang tidak hanya menerima, tapi juga mau memberi.

Aku mulai membantunya melipat pakaian.
Membersihkan meja makan.
Mengantarnya belanja.
Mengurangi nada tinggi saat berbicara.
Lebih sering bilang “terima kasih”.

Semua hal kecil itu—yang dulu terasa remeh—kini menjadi bentuk cintaku yang sederhana.

Kadang aku masih sulit meminta maaf dengan kata-kata.
Kadang aku masih salah paham, masih keras kepala, masih terlalu sibuk.

Tapi aku selalu ingat ciuman malam itu. Ciuman yang membuatku sadar bahwa kasih sayang tidak harus besar untuk bisa bermakna.

Kadang, cinta justru hadir dalam hal-hal paling sederhana, paling kecil, dan paling diam.


Kini aku sudah dewasa. Banyak hal telah berubah. Pekerjaan, kehidupan, masalah, cara pandang. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah hilang dari pikiranku: malam ketika aku mencium kening ibuku dengan tulus untuk pertama kalinya.

Ciuman itu menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidupku.
Kenangan yang tidak akan pernah luntur, bahkan ketika kelak aku memiliki hidup sendiri, keluarga sendiri, dan dunia yang mungkin tidak lagi sama.

Kadang ketika aku pulang larut malam dan melihat ibuku tertidur di kursi yang sama, aku kembali merasakan hangat itu. Aku terdorong untuk mengulanginya—meski tidak selalu kulakukan. Tapi setiap kali kulakukan, ada rasa tenang yang sulit dijelaskan.

Seolah dunia yang rumit tiba-tiba menjadi sederhana.
Seolah semua masalah yang berat tiba-tiba menjadi ringan.
Seolah hati yang lelah tiba-tiba kembali utuh.

Hanya dengan sebuah ciuman kecil di kening seorang ibu.


Banyak orang bisa berkata “aku sayang kamu”.

Tapi tidak semua mampu membuktikannya melalui tindakan yang lembut, hangat, dan datang dari hati.

Aku belajar satu hal:

Cinta yang tulus tidak membutuhkan banyak kata.
Yang ia butuhkan hanyalah keberanian untuk menunjukkan perasaan itu, meski hanya melalui tindakan kecil.

Aku juga belajar bahwa kita tidak boleh menunggu waktu yang tepat untuk menyayangi seseorang. Karena waktu tidak pernah benar-benar tepat. Kadang justru tindakan sederhana di momen tak terduga menjadi hal yang paling membekas seumur hidup.

Seperti ciumanku pada ibuku malam itu.
Ciuman yang lahir dari penyesalan, tapi berubah menjadi pelajaran terbesar dalam hidupku.


Kini, setiap kali aku memikirkan ibuku, aku tidak hanya mengingat hal-hal besar yang ia lakukan. Aku mengingat bagaimana ia tertidur di kursi ruang tamu. Aku mengingat wajahnya yang lelah. Aku mengingat betapa mudahnya aku menyakitinya dengan kata-kata yang seharusnya tidak kuucapkan.

Dan aku mengingat ciuman itu.

Ciuman kecil yang sederhana.
Tetapi penuh dengan ketulusan.
Ketulusan yang berasal dari hati seorang anak yang mulai belajar mengerti.

Dan jika kelak aku menua, memiliki anak sendiri, dan mengalami hari-hari sulit, aku ingin mengingat pelajaran itu:

Bahwa cinta tidak harus besar untuk terasa penting.
Bahwa ketulusan bisa hadir bahkan tanpa suara.
Bahwa kadang, satu ciuman kecil bisa menyampaikan lebih banyak dari seribu kata.

Dan bahwa seorang ibu, betapapun sederhana hidupnya, selalu pantas mendapatkan kasih yang paling murni.


Ketulusan tidak membutuhkan banyak kata cukup satu tindakan kecil yang datang dari hati yang ikhlas. — Rezqi Abdina

0 comments:

Posting Komentar

Kontak

Hubungi saya kalau kalian penasaran


Alamat Rumah

JL. Kuin Selatan Gg. Al-Hidayah No.102 RT.01 RW.01 Cerucuk, Banjarmasin Barat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Nomer Handpohone

+(62)821-5365-6192

Website Jualan

Abdina Store