• Youtube
  • Instagram

Rabu, 29 Oktober 2025

HARAPAN


Setiap orang memiliki harapan dalam hidupnya.
Harapan untuk bahagia, untuk berhasil, untuk dicintai, atau sekadar untuk bisa bertahan di hari esok. Ada harapan yang tumbuh dari keberanian, ada yang lahir dari ketakutan, dan ada pula yang muncul dari kesendirian yang sering tidak kita akui. Namun tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya, harapan terasa begitu jauh, seperti bintang yang hanya bisa dilihat tetapi tidak pernah benar-benar bisa digapai dengan tangan.

Pagi itu aku berdiri di depan cermin, memandangi wajahku sendiri. Ada lingkar hitam yang semakin pekat di bawah mataku, tanda dari malam-malam panjang yang terisi gelisah dan pikiran yang tak mau diam. Di luar, matahari baru saja bangkit perlahan dari balik awan tipis, seolah dunia sedang memberi kesempatan baru—meski aku sendiri tidak yakin apakah aku masih punya ruang untuk sebuah permulaan lagi.

Aku menghela napas panjang.
“Apakah aku masih punya harapan untuk hari ini?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa berat di dada.
Rasanya seperti menanyakan sesuatu yang seharusnya sudah kutahu jawabannya, namun kenyataannya aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya berdiri di sana, menatap pantulan diriku, tanpa keberanian untuk menjawab.


Sudah beberapa kali aku mencoba memperbaiki hidupku.
Aku mencoba memulai ulang, mencoba mendisiplinkan diri, mencoba memperbaiki hubungan, mencoba mengatur masa depan. Tapi hasilnya tidak selalu seperti yang kuharapkan. Ada mimpi yang gagal, ada rencana yang hancur di tengah jalan, dan ada jalan yang ternyata tidak membawa ke mana-mana.

Aku pernah merasa begitu yakin bahwa sesuatu — entah pekerjaan, entah hubungan, entah masa depan — akan berjalan dengan baik. Tapi ketika kenyataan berjalan ke arah berbeda, aku merasa dunia telah mengkhianatiku. Pada hari-hari seperti itu, aku merasa kecil, lemah, dan tak berdaya.
Kadang aku bahkan merasa Tuhan tidak mendengarkan doaku.

Namun anehnya, di tengah keputusasaan itu, selalu ada sesuatu yang membuatku tetap berdiri.
Sesuatu yang tidak bisa kulihat, tapi selalu bisa kurasakan.
Sebuah rasa kecil yang disebut harapan.


Aku ingat suatu sore ketika aku masih kecil. Aku duduk di depan rumah bersama ibu, memegang sepucuk kertas yang berisi nilai ulangan sekolah. Nilai itu tidak bagus. Aku takut. Aku merasa gagal. Tapi ibu tidak marah. Ia hanya menatapku dengan lembut.

“Jangan takut gagal,” katanya sambil merapikan rambutku yang berantakan.
“Setiap kegagalan, kalau kamu mau belajar, akan membawa kamu ke tempat yang lebih baik.”

Aku tidak benar-benar mengerti waktu itu. Bagiku, dunia masih sederhana: jika gagal, berarti buruk. Jika berhasil, berarti hebat. Tapi seiring hidup berjalan, aku mulai memahami bahwa perkataan ibu bukan hanya tentang nilai sekolah. Ia sedang mengajariku tentang hidup, tentang sabar, tentang menerima, dan tentang harapan.

Kalimat itu terus aku ingat sampai sekarang.
Kadang ketika aku merasa dunia terlalu berat untuk dipikul, aku memejamkan mata dan mendengar suara ibu itu lagi—memberiku kekuatan untuk bernapas.


Dalam perjalanan hidupku, aku sering melihat orang-orang yang tetap tersenyum meski hidupnya jauh dari kata mudah. Seorang pedagang kecil yang tetap berjualan meski dagangannya sering tidak laku, seorang ibu rumah tangga yang tetap ceria meski beban hidupnya berat, seorang teman yang masih bisa tertawa meski hatinya sedang patah.

Mereka adalah orang-orang yang menabung harapan sedikit demi sedikit.
Bukan karena mereka tahu hasilnya, tapi karena mereka percaya bahwa hidup selalu memberi ruang untuk sebuah keajaiban kecil. Aku kagum pada mereka. Aku belajar dari mereka. Aku sadar, mungkin harapan memang bukan soal hasil, tapi tentang keberanian untuk terus mencoba meskipun kita belum tahu akhir dari semuanya.

Ada masa ketika aku sendiri hampir kehilangan harapan itu. Aku pernah berada di titik terendah, di mana aku merasa tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan. Perasaan itu seperti berjalan sendirian di ruangan gelap — tidak tahu arah mana yang benar, dan tidak tahu di mana pintu keluar berada.

Di malam-malam seperti itu, aku hanya duduk diam, menatap langit-langit, mendengarkan detak jam yang berjalan lambat. Pikiran rasanya penuh, tapi hatiku kosong. Kadang aku bertanya, “Mengapa hidup tidak bisa sedikit saja lebih baik? Mengapa aku harus melalui ini semua?”

Tapi lalu ada momen-momen kecil yang entah kenapa terasa seperti petunjuk.
Seorang teman tiba-tiba bertanya kabar.
Seseorang memberikan kata-kata penguatan.
Atau sekadar melihat matahari pagi yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Itulah cara semesta mengingatkan bahwa tidak semuanya hilang. Bahwa masih ada ruang untuk harapan, meski sekecil titik cahaya.


Malam itu, aku duduk di depan jendela kamar. Langit tampak gelap, hanya satu bintang kecil terlihat berkilau samar. Aku menatapnya lama.
“Kalau aku menyerah sekarang, berarti aku menghancurkan harapanku sendiri,” gumamku pelan.

Kalimat itu keluar dengan lirih, seolah aku sedang berbicara pada diri sendiri yang sudah terlalu lama diam. Ada rasa perih, tapi juga ada sedikit keberanian yang muncul perlahan.

Aku tersenyum kecil, lalu menutup mata. Dalam diam, aku berdoa.
Bukan lagi memohon agar semua keinginanku segera terwujud.
Bukan lagi memaksa Tuhan untuk mengabulkan sesuatu.
Tapi aku meminta satu hal: kekuatan untuk tidak menyerah saat aku harus menunggu waktu yang tepat.

Doa itu sederhana.
Namun terasa begitu dalam.


Harapan adalah sesuatu yang tidak bisa kita pegang.
Ia tidak memiliki bentuk, tidak memiliki warna, tidak memiliki suara. Tapi kita bisa merasakannya. Ia hidup di dalam hati — kecil, pelan, tetapi menyala bahkan ketika semuanya terasa gelap.

Mungkin itu sebabnya Tuhan memberikan rasa sabar, agar kita belajar menghargai setiap proses sebelum harapan menjadi nyata. Karena tanpa sabar, harapan akan mudah patah. Tanpa sabar, kita akan menyerah sebelum melihat perubahan kecil yang sebenarnya sudah mulai datang.

Dalam hidupku, aku telah belajar bahwa harapan tidak selalu kuat. Ada hari di mana ia tumbuh besar. Ada hari di mana ia hampir padam. Tetapi selama aku masih mau merawatnya, harapan itu akan tetap hidup.


Suatu hari, aku berbicara dengan seorang teman lama. Kami duduk di taman, memandangi anak-anak yang berlari-larian dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia bercerita bahwa ia pernah berada pada titik terendah hidupnya.
“Aku hampir menyerah,” katanya.
“Tapi kau tau apa yang membuatku bertahan?”

Aku menggeleng.

“Karena aku ingin melihat apa yang akan terjadi jika aku tidak menyerah hari itu.”

Kalimat itu menamparku lembut.
Sederhana, tapi sangat benar.

Kadang, harapan tidak harus besar. Kadang harapan cukup berupa keinginan untuk melihat bagaimana hidup akan berubah jika kita bertahan satu hari lagi. Lalu besok bertahan lagi. Dan besoknya lagi. Sampai akhirnya perubahan itu benar-benar datang.


Aku juga ingat percakapan dengan Ayah suatu malam ketika listrik mati. Kami duduk berdua, ditemani cahaya lilin yang menguning. Saat itu aku bertanya, “Ayah, bagaimana caranya tetap punya harapan kalau hidup terus terasa berat?”

Ayah tersenyum, lalu menjawab,
“Setiap orang punya harapan. Tapi kebanyakan orang lupa bahwa harapan tidak selalu datang untuk mengubah keadaan. Kadang harapan datang untuk menguatkan hati.”

Aku terdiam.

Ayah melanjutkan,
“Kalau kamu hanya berharap untuk kemenangan, kamu akan cepat kecewa. Tapi kalau harapanmu adalah untuk bertahan, kamu akan lebih kuat dari apa pun.”

Aku menunduk. Kata-kata itu begitu menenangkan dan menegur di waktu yang sama.
Aku menyadari bahwa selama ini aku hanya berharap pada hasil, bukan pada proses. Aku lupa bahwa bertahan pun adalah bentuk harapan.


Hari demi hari berlalu. Hidup tidak serta-merta membaik. Tidak tiba-tiba menjadi lebih mudah. Tapi ada perubahan kecil yang kurasakan: aku tidak lagi merasa sendirian dalam perjuangan. Aku punya harapan, dan itu cukup.

Aku mulai mensyukuri hal-hal kecil — udara pagi yang sejuk, secangkir kopi hangat, pesan singkat dari seseorang, bahkan detik-detik tenang sebelum tidur. Semuanya mungkin tampak biasa, tapi ketika hati kita sedang mencari alasan untuk bertahan, hal kecil pun bisa menjadi penyelamat.


Kini aku mengerti bahwa harapan bukan janji.
Harapan bukan jaminan.
Harapan bukan kepastian.

Harapan adalah keberanian.
Keberanian untuk percaya, meski kita pernah terluka.
Keberanian untuk melangkah, meski jalan belum terlihat jelas.
Keberanian untuk membuka hati lagi, meski pernah dikecewakan.

Harapan mengajarkan kita bahwa hidup tidak selalu tentang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana kita menghargai setiap nafas yang masih diberikan.


Maka jangan padamkan harapan hanya karena hari ini terasa sulit.
Jangan biarkan satu kegagalan membuatmu mengubur masa depanmu sendiri.
Jangan biarkan kata-kata orang lain membuatmu berhenti mencoba.

Kadang, hal-hal besar lahir dari kesabaran yang sederhana.
Dari langkah kecil yang tetap kau ambil, meski kakimu gemetar.
Dari doa yang terus kau bisikkan, meski suaramu bergetar.
Dari tekad yang kau simpan rapat-rapat di hati, meski tidak ada yang mengetahuinya.

Harapan tidak selalu bersinar terang.
Kadang ia hanya berupa cahaya redup.
Namun cahaya sekecil apa pun tetap mampu menunjukkan jalan bagi siapa pun yang memilih untuk bertahan.

Dan hari ini, aku memilih untuk tetap berharap.
Sekecil apa pun.
Serapuh apa pun.

Karena aku tahu, harapanlah yang membuatku tetap hidup. — Rezqi Abdina

0 comments:

Posting Komentar

Kontak

Hubungi saya kalau kalian penasaran


Alamat Rumah

JL. Kuin Selatan Gg. Al-Hidayah No.102 RT.01 RW.01 Cerucuk, Banjarmasin Barat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Nomer Handpohone

+(62)821-5365-6192

Website Jualan

Abdina Store