Harga diri bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ia adalah bagian dari kehormatan diri yang tumbuh dari cara kita memperlakukan diri sendiri dan bagaimana kita mengizinkan orang lain memperlakukan kita. Kadang, harga diri membuat seseorang terlihat keras, padahal sebenarnya ia hanya sedang berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terluka.
Aku pernah berada di situasi di mana harga diriku benar-benar diuji. Saat itu, aku masih sekolah di SMK. Di kelas, ada beberapa teman yang suka mempermainkan orang lain hanya untuk terlihat lebih hebat. Aku bukan tipe orang yang suka melawan, apalagi membuat keributan. Jadi, ketika mereka mulai mengolok-olokku, aku hanya diam dan tersenyum. Tapi semakin lama, candaan mereka semakin menjadi-jadi.
“Ah, kamu itu gak asik, pendiam banget. Hidup kok datar gitu,” kata salah satu dari mereka sambil tertawa.
Aku hanya menunduk, mencoba tidak memperdulikan. Tapi di dalam hati, aku merasa sakit.
Mereka tidak tahu bahwa di balik diamku, ada perasaan yang tergores. Aku bukan tidak ingin melawan, aku hanya tidak ingin menurunkan diriku ke level mereka.
Suatu hari, mereka kembali berbuat hal yang sama. Salah satu dari mereka mengambil bukuku dan mencoret-coret isinya dengan gambar-gambar yang tidak sopan. Saat itu, aku tidak tahan lagi. Aku berdiri dan menatap mereka dengan mata yang tajam.
“Cukup. Kalau kalian pikir aku diam karena takut, kalian salah. Aku diam karena aku masih menghargai kalian sebagai teman.”
Kelas menjadi hening. Tidak ada yang berani bicara. Aku mengambil kembali bukuku, lalu duduk dengan tenang. Sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi menggangguku.
Malamnya, aku merenung lama. Aku sadar, harga diri bukan tentang seberapa keras kita membalas, tapi tentang bagaimana kita tetap bisa menjaga martabat tanpa harus menjatuhkan orang lain. Aku belajar bahwa terlalu baik pun bisa membuat orang lain meremehkanmu. Tapi jika kita tahu kapan harus tegas, orang lain akan belajar untuk menghargai kita.
Sejak kejadian itu, aku tidak lagi takut untuk bersuara. Aku belajar menempatkan diri — kapan harus diam, kapan harus bicara. Karena diam tidak selalu berarti lemah, dan berbicara tidak selalu berarti sombong. Yang penting adalah niat di balik tindakan itu.
Harga diri bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan orang lain, tetapi tentang seberapa rendah kita mau merendahkan diri demi sesuatu yang benar.
– Rezqi Abdina
0 comments:
Posting Komentar