Pagi itu, aku bergegas untuk bersiap-siap di acara perpisahan di sekolahku. Aku mengenakan jas hitam yang dipinjamkan oleh pamanku. Hari terlihat mendung, jadi aku mempersiapkan jas hujan supaya pakaianku tidak basah. Setelah semuanya siap, aku bergegas pergi menggunakan sepeda motor yang biasa aku gunakan. Tak lupa aku bersalaman dengan kedua orang tua sebelum berangkat. Aku tidak tahu apakah mereka akan hadir di acara tersebut, karena ibuku harus menjaga adikku yang masih kecil. Aku berharap mereka bisa datang untuk melihat kelulusan anaknya di Sekolah Menengah Kejuruan. Saat aku tiba di lokasi acara, para fotografer siap memotret para siswa yang datang. Aku duduk di bangku yang disediakan sesuai nomor absen, bersebelahan dengan Rahmatullah dan Rizky Utiya Rahmah. Acara dimulai, tapi aku belum melihat kedatangan orang tua. Tak lama kemudian, aku melihat ayahku datang seorang diri. Aku merasakan campuran emosi - senang, sedih, dan marah - karena aku anak dari keluarga yang terpisah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Momen paling mengharukan adalah saat para orang tua atau wali murid maju ke depan dan memberikan bunga serta pelukan hangat kepada siswa. Aku tidak tahu apakah aku merasakan kebahagiaan atau kesedihan, tapi air mataku tiba-tiba mengalir deras dan hatiku terasa sesak. Aku terus menangis tanpa henti, mengeluarkan semua perasaan yang membelenggu di hatiku. Aku berpikir, kapan lagi aku akan merasakan perasaan yang begitu indah ini?
Aku masih memiliki orang tua, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki kedua orang tua? Mereka tidak dapat merasakan sayangnya, marahnya, dan sedihnya orang tua kepada diri kita, pikirku. Saat aku kembali ke tempat duduk, aku masih menangis tersedu-sedu sambil menenangkan diri. Aku meminta beberapa tisu kepada teman sebelahku.
"Utiya, kamu punya tisu?"
"Ada, nih, ambil aja."
"Terima kasih."
Aku bingung, kenapa dia tidak menangis, padahal acaranya begitu sedih dan diiringi musik yang menyentuh. Tapi aku sadar, mungkin dia menahan tangisnya karena tidak ingin makeup yang sudah disiapkan menjadi luntur. Menurutku, sebaiknya tangisan dikeluarkan saja, agar perasaan kita lebih nyaman dan rileks.
Acara pun diakhiri dengan doa. Sebelum acara berakhir, kami berfoto untuk membuat kenangan. Tak lupa aku juga berfoto dengan ayahku, walaupun kameranya terlihat buruk dan buram, itulah kenangan yang akan tersimpan nantinya. Maka, selama orang tua kalian masih hidup dan bisa bersama kalian, syukurilah apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Hidup ini cuma sekali, maka manfaatkanlah hidup kalian sebaik yang kalian bisa.
Janganlah menganggap bahwa seseorang yang tersenyum sedang bahagia, seseorang yang menangis adalah orang yang menyedihkan, atau seseorang yang marah adalah orang yang membenci kita. Kita sering kali mudah menilai orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Semarah apapun kita terhadap orang tua, mereka tetaplah orang tua yang menyayangi kita, membesarkan kita, dan membuat kita menjadi seperti sekarang ini. Hormatilah mereka, apa pun yang terjadi dalam hidup kita. -Rezqi Abdina

0 comments:
Posting Komentar