Dulu, saat aku masuk SMP untuk pertama kalinya, aku memiliki beberapa teman yang kupercayai. Awalnya, aku sangat mempercayai mereka. Namun, kepercayaan itu tidak bertahan lama, karena mereka memiliki teman lain yang lebih mereka sukai. Dari situ, aku belajar bahwa memiliki teman tidak harus sempurna seperti yang kita inginkan. Yang penting adalah kita mempercayai dan dipercayai oleh mereka.
Saat di ruangan kelas, aku bermain dengan imajinasiku. Dengan imajinasi yang kubuat, aku bebas melakukan apa yang kuinginkan, misalnya bermain permainan yang kusuka di sebuah komputer virtual. Aku membayangkan diri sedang mengetik dengan lincahnya, dan tanganku bergerak mengikuti imajinasi yang kubuat. Teman-teman kelasku kebingungan melihat apa yang kuperbuat, mereka menganggapku seperti orang gila atau orang aneh. Namun, itu tidak mengganggu aku, aku tetap melanjutkan bermain dengan imajinasiku sendiri. Seiring waktu, teman-temanku mulai menjauhiku, bahkan teman akrab kecilku dan sepupuku juga menjauhiku. Aku sadar bahwa sebagus apapun kita memperlakukan orang lain, mereka belum tentu akan baik kepada kita. Mereka akan baik jika mereka menganggap kita pantas menjadi temannya.
Hari-hariku di sekolah dipenuhi dengan kesendirian. Kesendirian menjadi teman akrabku, dan aku mulai terbiasa dengan hal itu. Perpustakaan menjadi tempat yang paling nyaman bagiku untuk melakukan segala hal. Di sana, aku membaca buku-buku cerita, pengetahuan, sejarah, dan buku-buku lainnya yang membuatku merasa nyaman dengan kesendirian itu. Pengetahuan dan wawasanku pun bertambah luas, aku seperti sedang berkeliling dunia padahal aku hanya membaca buku. Di perpustakaan ada sebuah TV, terkadang saat aku bosan, aku melihat ke TV sesekali jika acara yang ditayangkan bagus. Biasanya, anak-anak yang datang ke perpustakaan ingin membolos dan berada dekat kipas angin, karena di kelas waktu itu tidak ada pendingin atau kipas angin, hanya dikelilingi oleh kayu dengan beberapa ventilasi udara. Mulai dari situlah aku menyukai perpustakaan, bahkan sampai sekarang.
Selama tiga tahun aku sekolah SMP, aku memiliki beberapa teman. Namun, aku tidak bisa mengingat semuanya karena sudah mulai melupakannya. Banyak hal buruk yang terjadi membuatku ingin melupakan semuanya. Namun, setiap kenangan pasti memiliki arti yang membuat kita sadar bahwa hidup tidak akan sesempurna apa yang kita bayangkan. Setelah lulus, aku melanjutkan ke sekolah SMK, kemudian kuliah, dan akhirnya memasuki dunia kerja. Pada suatu waktu, aku bertemu dengan seorang teman lama yang masih ingat denganku, namun aku sendiri sudah lupa bahwa pernah berteman dengannya.
"Hei Qi, masih ingat sama aku?"
"Bentar, siapa ya? Aku lupa."
"Teman waktu di warnet dulu yang main sama Nico."
"Beneran aku udah lupa, siapa namanya?"
"Noval, namaku."
"Serius? Aku beneran lupa, maaf ya."
Di kepalaku terbesit pertanyaan tentang siapa dia, kapan aku pernah berteman dengannya, dan siapa namanya. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah memori di kepalaku masih mengingatnya. Aku merasa tidak enak terhadap dia karena aku sudah melupakannya, sedangkan dia masih mengingatku. Aku seperti menjadi orang yang jahat, yang mudah melupakan seorang teman begitu saja. Di sisi lain, aku juga sadar.
Teman seperti apa yang aku impikan? Teman seperti apa yang aku dambakan? Apakah teman yang sempurna dari segi materi maupun fisik? Tidak. Aku hanya menginginkan teman yang selalu ada di kehidupanku. Terima kasih untuk teman-temanku yang masih mengingatku dan masih ingin berteman denganku.
Sebanyak atau seakrab apapun kita berteman, pada suatu waktu kita mungkin akan melupakannya. Hal ini karna dipengaruhi oleh kondisi yang ada di lingkungan kita. - Rezqi Abdina

Kalau aku pribadi kebiasaannya lupa nama, tapi inget muka :D
BalasHapushehe, wajar sih kita gk bisa ingat semua orang yg ada di sekitar kita kecuali orang2 penting bagi kita.
Hapus