Hari itu, terasa panasnya sinar matahari yang membuat tubuhku berkeringat banyak. Aku mengenakan baju sekolah dan berjalan menuju rumah yang jaraknya hanya sekitar 1 kilometer dari tempat taksi berhenti untuk menurunkan aku. Di setiap langkahku menuju rumah, banyak pengendara motor dan mobil yang berlalu-lalang. Terkadang, ada yang menawarkan bantuan untuk mengantarku pulang agar lebih cepat sampai di rumah.
"Dek, rumah adek ada di mana?"
"Di depan Langgar Mukhlisin, Pak."
"Sini ikut Bapak aja, biar cepat sampai."
(Terkadang, aku merasa ragu untuk ikut, tapi apa boleh buat, saat seseorang menawarkan bantuan, aku merasa tidak enak untuk menolaknya.)
"Makasih, Pak."
Dan itu tidak setiap hari ada seseorang yang mau menawarkan bantuannya kepadaku. Hari ini, aku berjalan di belakang seseorang yang sangat hebat. Namanya aku tidak begitu ingat, tapi dia adalah seorang kakak temanku dan juga kakak kelas di sekolahku. Dia seorang perempuan yang mau berjalan kaki menuju rumah, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Meskipun hari itu sinar matahari begitu panas dan polusi udara yang kotor, dia tetap berjalan di depanku. Seorang perempuan biasanya sangat menjaga kebersihan dan penampilan, tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu. Aku merasa kagum melihat dia dan berpikir, "Aku sebagai laki-laki harus lebih kuat dan tegar dari seorang perempuan yang berjalan di depanku." Aku orangnya pendiam, jadi aku hanya menyapa kakak itu beberapa kali dan terus berjalan menuju rumah. Beberapa kali aku juga bertanya kepada kakak tersebut untuk memecahkan kebosanan saat berjalan.
"Ka, kenapa kakak pulangnya jalan kaki?"
"Tidak setiap hari kok, kadang orang tua menjemput, kadang tidak. Kalau tidak dijemput, kakak jalan kaki saja."
"Padahal hari ini sangat panas, kakak kan juga seorang perempuan."
"(tersenyum) Tidak apa-apa, kakak tidak ingin merepotkan orang tua."
Aku terdiam, meskipun masih kelas tiga SMP, tapi sifatnya sangat dewasa sekali. Aku membandingkan diriku yang masih labil dan egois dengan kakak yang berjalan di depanku. Langkah demi langkah, kami terus berjalan menuju rumah, tempat istirahat setelah lelahnya kegiatan sekolah dan perjalanan kaki di bawah terik matahari. Selama tiga tahun di sekolah yang sama, kami sering berjalan bersama, meskipun kadang-kadang sendiri-sendiri. Di tengah perjalanan, aku merasakan sakit pada ginjal kananku. Aku bertanya-tanya apakah tubuhku sudah tidak kuat, apakah aku memiliki penyakit ginjal, atau apakah tubuhku tidak kuat untuk berjalan setiap hari. Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di benakku, tapi aku mencoba mengabaikannya dan terus berjalan apa pun yang terjadi.
Walau saat berjalan kaki, aku sedikit iri dengan orang yang dijemput atau menggunakan alat transportasi pribadi untuk pulang dan pergi. Namun, aku tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadaku - aku masih memiliki kaki untuk berjalan, otak untuk berpikir normal, dan seseorang yang kukagumi tepat di depanku. Tidak terasa, rumahku sudah tidak terlalu jauh lagi dari pandanganku. Kakak yang berjalan bersamaku itu rumahnya masih beberapa meter lagi di sebuah gang.
"Kak, aku duluan ya?"
"Iya."
Aku masuk ke kamarku dan beristirahat untuk memulihkan diri dari kelelahan. Setiap hari membawa banyak hal dan cerita yang membuat kita sadar bahwa kita selalu berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan. Hal ini juga akan berdampak pada masa depan kita nantinya. Tidak ada yang tahu cerita apa yang akan kita temukan nanti, entah itu sedih, senang, atau bahagia. Itulah proses yang kita jalani setiap hari.
Karena apa pun yang terjadi pada diri kita, hanya kita yang bisa menyelamatkan dan mengubahnya. Hidup adalah pilihan, mau bertahan atau menyerah? Pilihan ada di tanganmu. - Rezqi Abdina

bagus, sudah bisa berpikir kreatif kamu. tapi, setidaknya tulisannya setelah tanda titik huruf besar ya koreksi lagi, biar pembacanya enak untuk membaca. semangat ya
BalasHapusWaaah, makasih banyak ka ..
Hapussiap ka, saya perlu banyak belajar lagi untuk tata cara penulisan.