• Youtube
  • Instagram

Senin, 09 Juni 2025

PERASAAN FANA

 


Perasaan adalah sesuatu yang tak dapat diprediksi. Ia datang tanpa diminta, dan pergi tanpa permisi. Kita tak pernah tahu kapan kita akan menyukai seseorang, begitu juga kapan kita harus berhenti berharap. Yang pasti, perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksa. Ia tumbuh karena kebersamaan, perhatian, dan waktu—dan bisa menghilang karena kenyataan.

Aku pernah menyukai seseorang. Tidak dalam waktu yang singkat, tapi cukup lama untuk membuatku bertanya, “Apa arti semua ini?” Perasaan itu tumbuh perlahan, sejak masa sekolah menengah. Dia tidak sempurna, tapi justru ketidaksempurnaannya yang membuatku nyaman. Sederhana, tidak banyak bicara, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Hanya saja, aku sadar—dia tidak pernah menaruh perasaan yang sama kepadaku.

Awalnya aku berpikir, cukup dengan menjadi teman yang baik. Tapi lama kelamaan, perasaan itu tumbuh melebihi yang seharusnya. Aku mulai berharap lebih. Padahal, dalam diam aku tahu, harapan itu akan membawa luka.

Kami sering berbincang, bercanda, bahkan saling menguatkan. Tapi ada satu batas yang tak bisa kulewati: aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya seseorang yang diam-diam menyukai tanpa keberanian untuk mengungkapkan. Karena aku tahu, kalau pun aku jujur, tidak ada yang akan berubah—selain kemungkinan kehilangan hubungan yang sudah ada.

Ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan. Saat dia bercerita bahwa dia sedang menyukai seseorang. Senyum di wajahnya begitu tulus, dan aku hanya bisa mengangguk, pura-pura ikut senang, meski dalam hati rasanya seperti pecahan kaca yang menancap pelan-pelan. Tapi aku belajar satu hal penting hari itu: tidak semua perasaan harus dimiliki. Ada kalanya kita hanya ditugaskan untuk merasakan, bukan untuk memiliki.

Sejak hari itu, aku mulai menjaga jarak. Bukan karena benci, tapi karena aku perlu menyembuhkan diri. Perasaan yang terlalu lama dipendam bisa berubah menjadi luka, dan aku tidak ingin luka itu merusak hubungan kami. Mungkin kedengarannya pengecut, tapi terkadang melepaskan adalah bentuk keberanian yang tak semua orang miliki.

Kini, aku melihat dia hidup bahagia dengan pilihannya. Dan aku... aku baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi perasaan yang dulu begitu kuat. Hanya kenangan yang tersisa, menjadi pengingat bahwa pernah ada perasaan indah yang kini telah berlalu.

Perasaan bisa tumbuh kapan saja, pada siapa saja. Tapi tidak semua perasaan harus diperjuangkan. Beberapa hanya perlu disyukuri pernah ada, lalu dilepaskan dengan ikhlas. – Rezqi Abdina

0 comments:

Posting Komentar

Kontak

Hubungi saya kalau kalian penasaran


Alamat Rumah

JL. Kuin Selatan Gg. Al-Hidayah No.102 RT.01 RW.01 Cerucuk, Banjarmasin Barat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Nomer Handpohone

+(62)821-5365-6192

Website Jualan

Abdina Store